Belajar Bersyukur

Di masa pandemi ini, Oyu banyak banget hal yang dipikirin. Di rumah dan banyak waktu engga ngapa-ngapain, justru bikin Oyu mikirin hal yang aneh-aneh. Walaupun pada kenyataannya kegiatan Oyu ada WFH-nya, tapi selain memikirkan WFH otak serasa enggak jalan banget. Padahal ada beberapa perintah, tapi otak Oyu jalannya berasa mesin yang adem banget, berasa jarang dipake. Jujur Oyu akui, di masa pandemi ini sebenarnya sangat sulit untuk bertindak selalu dan selalu produktif.

Gimana enggak, kita memaksakan produktif, padahal sebenernya sedang enggak baik-baik saja. Memaksakan diri untuk terlihat baik-baik saja juga berat, terlebih dunia yang emang sedang enggak baik-baik saja. Memang beberapa waktu kita bisa banget buat fokus ke hal yang kita sedang lakuin dan kerjain. Tapi, di belakang itu jelas dan amat sangat terasa ada sebuah tekanan dan sikap waspada yang juga terus membayangi keseharian manusia di masa pandemi ini.

Kalau Oyu sendiri, selama pandemi ini, ada kalanya Oyu rajin banget dan produktif akan hal-hal yang Oyu harus kerjain, misalnya main job dan beberapa hobi. Tapi, di luar itu, Oyu juga bisa males sejadi-jadinya, enggak ngapa-ngapain seharian dan kerjaannya cuma bisa makan-nonton, makan-nonton (nonton di rumah ya, Coi). Mandi pun cuma Oyu lakuin jika ingin doang. Udah bener-bener kayak kayu mati aka deadwood.

Tapi, ada juga beberapa momen ketika Oyu sedang enggak ngapa-ngapain. Momen itu buat Oyu mikir banget, kayak 'Apa yang sedang terjadi', 'Kenapa ada pandemi ini', 'Efek pandemi', 'Fenomena-fenomena pandemi', dan tentunya sebuah yang berkaitan dengan masa pandemi dan karantina ini. Walaupun pas Oyu nulis ini, masa New Normal udah mulai diberlakukan. Masa New Normal pun, Oyu akan tetap membatasi untuk bepergian, selalu berusaha meminimalisir. Toh, New Normal sangat bisa diartikan jaga dirimu sendiri. Terlebih untuk negeri Indonesia ini, yang sebenernya belum bener-bener menurun grafiknya dan belum klimaksnya.

Beralih ke renungan di masa karantina Oyu ini. Oyu selalu mikir bahwa Coronavirus ini hadir untuk memberikan suatu pelajaran dan hikmah tertentu yang sangat-sangat harus dipelajari. Bagi Oyu, Coronavirus bukan lagi perihal konspirasi dan sebagainya, tapi hanya sebatas bagaimana kita berjuang bersama menyelamatkan manusia di seluruh dunia ini. Seberapa keras usaha kita untuk berjuang melawan dan seperti apa senjata yang kita pakai dalam peperangan ini.

Selain itu, Coronavirus juga membuat Oyu sadar, bahwa terkadang Oyu terlalu banyak memikirkan orang luar dan bermain di luar. Di rumah aja, membuat Oyu semakin sadar,, bahwa keluarga-lah orang yang sangat-sangat dirindukan kali pertama. Orang yang akan selalu ada kali pertama saat suka maupun duka. Tidak perlu jauh-jauh dan mengharapkan orang lain. Setidak peduli dan cueknya anggota keluarga kita, sebenernya mereka menyimpan perhatian dan kepedulian yang sejatinya akan selalu ada di sana.

Kali kedua, rezeki. Yap, hal yang sangat amat terasa di masa pandemi ini, ekonomi yang menurun drastis, baik negeri maupun perseorangan. Bahkan Oyu sendiri mengalami penurunan gaji, teman kerja Oyu ada yang dirumahkan karena atap tempat kami bekerja kekurangan pemasukan sehingga terpaksa untuk mengurangi karyawan. Semoga ketika pandemi berakhir, kami bisa sama-sama kembali bekerja. Begitu juga dengan kalian di luar sana, baik yang sudah bisa berpindah ke pekerjaan baru akibat pandemi, maupun yang diberhentikan dan/sementara. Semoga kita selalu bisa bangkit, walaupun pandemi ini memaksa kita untuk jatuh dan tersungkur.

Hal yang Oyu syukuri lainnya adalah Coronavirus mengingatkan kita bagaimana perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) yang sebenarnya. Menerapkannya dengan baik dalam keseharian kita, bukan hanya dikala pandemi seperti ini. Menyadarkan kebersihan dan kesehatan adalah segalanya. Karena, sebaik dan sebanyak apapun materi yang kita punya, jika tubuh enggak sehat kita pun tak bisa merasa dan menikmatinya, bukan? Selain itu adab dan perilaku yang baik dalam keseharian, termasuk bersin dan batuk, yang sebenernya sudah diatur, dan kini diingatkan kembali di masa pandemi ini. Karena Oyu sering sekali menjadi korban mereka-mereka yang batuk dan bersin sembarangan tanpa menutupnya, meludah sembarang, bahkan jauh sebelum pandemi ini datang.

Yah, sejatinya pandemi ini datang untuk mengingatkan manusia akan hal-hal yang mulai dilupakan atau belum dikenal dan dipelajari sebelumnya. Mengingatkan bahwa nyawa sesama adalah yang paling berharga, bahkan 1 nyawa sudah terlalu banyak. Mengingatkan untuk selalu berperilaku hidup sehat, kapan pun itu. Selalu membantu dan memberi tanpa membanding-bandingkan dan mendiskriminasi. Berdoa dan menjaga sesama. Berusaha dengan semampu dan semaksimal mungkin, apapun hasilnya dan walaupun sangat menakutkan saat menghadapinya.

Udah, sekian dulu. Semoga kalian yang membaca ini sehat selalu dan selalu dalam lindungan-Nya. Keluarga, teman, dan diri kalian sendiri baik-baik saja, walaupun dunia sedang tidak baik-baik saja. Bai ....

Postingan populer dari blog ini

#CERITA - EPS 09

MY HAPPY LIFE LIST BEFORE 40s

Diskon Akhir Tahun