Tulisan tentang Generasi

20 September 2018,

Hari dimana malam-malam Oyu terpikir akan satu masalah sosial. Di hari-hari Oyu, yang menyibukkan diri untuk kerja freelance dan nyari-nyari kerja yang steady-income. Oyu terpikir akan satu hal, yang mungkin jawaban dari pertanyaan, "aku kerja untuk apaan sih?". Jawaban yang pasti, memang buat dapet duit dan pengalaman. Tapi, jauh dari itu, inilah yang Oyu pikirkan.

Oyu kerja, bisa aja hasilnya buat kebutuhan, bantuin ortu, terus sodaqoh, dan uang jajan, khususnya paketan, right? Tapi, jauh dari itu semua, peradaban manusia itu sebenernya paling mengusik pikiran Oyu. Gini, di saat kita kerja, dapet uang, terus manjain diri. Tapi, di sisi lain bahkan di luar sana ada juga yang kerja, tapi di dalamnya diselipin kata membantu sesama dan membangun peradaban. Dapet nggak kira-kira apa yang Oyu maksud?

Oke, Oyu coba gambarkan diri Oyu sendiri. Oyu, sehari-hari kerja, dapet uang terus uangnya buat beli paketan (misal aja nih). Pasti Oyu stereotype-nya, 'cari uang-beli paketan-cari uang-beli paketan' gitu mulu. Tapi, di luar sana, ada orang yang kerja sekaligus ibadah. Contohnya bapak-bapak yang Oyu kenal. Dia dulu kerja jadi kuli, tapi karena perihatin dengan warga desa yang kurang akan kegiatan literasi. Akhirnya, si Bapak ini bikin pustaka keliling yang notabene ada kayak paguyubannya gitu, istilah anak sekarang sih komunitas. Nah, berarti si Bapak kan bekerja keliling-keliling desa sekaligus dalam tugas negara mencerdaskan dan menggalakkan kegiatan literasi atau budaya membaca, kan? Ini yang Oyu maksud kerja sambil bantuin sesama dan bangun peradaban.

Di zaman yang makin kece ini, otomatis si Manusia bakal kerja untuk eksistensi diri, ngincer promosi, dan gaji gede dong. Paketan aja mahal. Tapi, kerja dengan memperdulikan sekitar kita itu ternyata masih awam atau mungkin enggan, mungkin juga enggan memulai. Ketika Oyu ngeliat teman2 Oyu, kerja-eksistensi-manjain diri-kerja-eksistensi-manjain diri muter gitu. Jadinya Oyu mikir, "Pernah nggak kita terpikir selintas aja tentang sekitar kita?". Nggak jauh-jauh, misal kita yang di pulau Jawa, terlebih di kota-kota besar, pasti kalau di suruh pindah/mutasi malesnya minta ampun. Kenapa? Karena memang sudah nyaman sama fasilitas yang super baik da super di manja sama si kota ini. Nah, padahal di luar sana ada saudara kita yang kadang untuk ngelihat TV aja masih jadi hal yang susah, sementara yang di kota ngelihatnya udah youtube aja sepanjang hari, walaupun fakir WIFI. Di kota-kota besar, sekolah enak, bahkan muridnya kadang nyepelehin sama sekolahnya dia sendiri. Sementara di luar sana, ada banyak adek-adek yang nggak bisa sekolah, sekolah cuma di sanggar/rumah baca dan sejenisnya, karena keseharian mereka harus bantu ortu mereka kerja.

Itulah mengapa Oyu bilang, 'kita kerja sebenarnya buat apa sih'. Bisa nggak diganti dengan project aja? Bisa nggak kerjanya nggak mikirin jabatan dan gaji? Walaupun, perut sendiri dan keluarga memang prioritas, tapi apa salahnya sih kita tengok sebentar. Mungkin bisa diselipkan kata 'membantu sesama' atau 'ikut membangun peradaban/bangsa' di goals masing-masing. Toh, ke depan yang mimpin dan ngejalanin negara juga generasi kita dan adek, bukan lagi mereka yang kini masih ada di kursi pemerintahan.

Oyu terkadang iri, sama mereka-mereka, si Pahlawan 'pembantu sesama' yang bisa dedikasiin hidup, waktu, tenaga, dan pikiran mereka, buat adek-adek & masyarakat yang membutuhkan. Malu rasanya, punya sesuatu tapi tidak dibagikan.

Semoga celotehan Oyu, bisa memunculkan ide untuk kalian, dan untuk kita semua, generasi penerus bangsa. Manusia kece abad millenial, dengan ide dan kerendahan hati untuk bisa maju bersama, bukan demi sepasang kaki semata.
Sekian.

Postingan populer dari blog ini

#CERITA - EPS 09

MY HAPPY LIFE LIST BEFORE 40s

Diskon Akhir Tahun