Mimpi Calon Entrepreneur
Siapa yang tak mengetahui dunia entrepreneur. Bidang yang berfokus pada kegiatan kewirausahaan, nyatanya mampu menarik hati seorang lulusan pendidikan. Irma Fitria Ningsih, namanya. Dia adalah seorang seorang alumni dari Prodi Pendidikan Bahasa Mandarin, Jurusan Bahasa dan Sastra Mandarin, Universitas Negeri Surabaya.
Mulanya dia ingin mengambil biologi atau sastra Jepang. Karena, sewaktu di bangku SMA, dia mendapatkan pelajaran bahasa Jepang. Namun, akhirnya dia berjodoh dengan bahasa Mandarin sebagai program studinya di bangku perkuliahan ini. Alhasil dia berjuang dari nol untuk belajar dan memahami bahasa Mandarin.
Merasakan bangku perkuliahan adalah bentuk perjuangannya dengan dukungan dari kedua orang tuanya. Dia yang gagal tes dua kali, yakni SNMPTN dan SBMPTN, terpaksa mengambil jalur mandiri. Atas restu kedua orang tuanya, dia berhasil lolos dan dinobatkan sebagai calon mahasiswa yang akan mengikuti masa orientasi di dunia perkuliahan. Perjuangannya dari nol pun berbuah manis, dia berhasil lulus.
Perempuan yang lahir dari pasangan (Alm) Adi Sukamto dan Siti Romlik ini menulis skripsi yang berjudul “Nilai Moral dan Nilai Budaya dalam Film So I Married An Anti Fan karya Jin Di Rong 《所以,我和黑粉结婚了》”, dengan dosen pembimbing Dr. Mintowati, M.Pd. Ia pernah mengikuti seleksi anggota Pramuka UNESA. Namun, karena alasan tertentu, ia tidak bisa meneruskan kegiatan di UKM Pramuka.
Ia memiliki mata kuliah yang berkesan baginya, yaitu mata kuliah PPP dan KKN. Ia menganggap, mata kuliah tersebut memberikan pengalaman yang berharga. Berbaur dengan anak-anak di desa Jetis bersama dengan masyarakatnya. Sama halnya dengan masa PPP, dia mengaku senang bertemu dan mengajar murid-murid di SMA Negeri 1 Puri Mojokerto. Murid-murid di sana cukup antusias dalam mengikuti pelajaran bahasa Mandarin.
Dra. Thea Sairine adalah dosen yang paling berkesan di hatinya. Baginya, dosen yang akrab dipanggil Zhang Laoshi ini, adalah dosen yang berhasil melecut semangat dan membuatnya lebih rajin untuk belajar bahasa Mandarin, walaupun harus dari nol. Di mata Irma, Zhang Laoshi adalah sosok yang tegas, disiplin, dan sangat bangga terhadap mahasiswanya yang dapat mengikuti materi dengan baik. Sayangnya, bukan hanya Zhang Laoshi yang berkesan di hati Irma. Ada dosen pembimbingnya, Minto Laoshi, yang selalu bersedia membimbingnya dengan baik, di sela kesibukan beliau. Selain itu, ada lagi dosen dari Jurusan Bahasa dan Sastra Mandarin, yaitu Zaenal Laoshi namanya.beliau adalah sosok yang baik, ramah, dan selalu memberikan semangat kepada mahasiswanya.
Menurutnya, Jurusan Bahasa dan Sastra Mandarin telah membuatnya terkesima dengan segala aspeknya, baik dari bahasa Mandarinnya, maupun negara China dengan sejarah dan budayanya. Selama di bangku kuliah, Irma memiliki teman akrabnya hingga kini masih berhubungan baik. Mereka adalah Ifa, Laili, dan Gadis. Mereka bertiga telah melalui hari yang penuh cerita, suka dan duka, bahkan perdebatan dan pertengkaran. Beruntungnya mereka tetap bisa saling mendukung dan menghargai satu sama lain.
Setelah lulus kuliah, ia berencana untuk melakukan hal yang menarik baginya. Sayangnya, pekerjaan mapan sepertinya tidak terlalu menarik baginya. Ia lebih tertarik untuk menjadi seorang wirausahawan. Karena baginya, mahasiswa memiliki sisi untuk menjadi sebagai seorang pencipta yang tentunya dapat dijadikan sebagai kontribusi nyata bagi negara. Jika ingin menghubunginya bisa melalui surel irmafitrians@gmail.com
